Iki Blog Arek Dmm

Kata Pengantar......

Selamat Datang Di ( Last Vasolia 43 )
Last Vasolia Ini Cuma Satu Slokan Kebetul Penulis Penggagas inde untuk Membuat Wadah Keluh Kesan Sang Pejuang Devisa - TKI. indonesia Yang Anda Di Timur Tengah. Terakhir Tinggal Diwalayah Vasolia Tepat nya Di Kota .....Di Timur Tengah.
Saudara saudara ide ini sifat nya cuma untuk berbagi duka....
maaf maksutnya suka & duka cuma kenapa saya tulis duka
karna 70% lebih banya duka nya ......

(1 ) persiapan untuk berakat undah ditipu Calo atua lebih keren nya.... Sponsor dari Pihak PT...... yang Bersangkutan untuk memberangkatkan Tki

(2) Sesudah sampai nya ke negara tujuan disini mulai
Hari pertama Sampai Terakhir Ke Pulangan
70 % tki mengetakan dapat perlakuan tidak manusiawi....

(3) Saat Kepulangan Saat yang sangat dinanti nanti oleh tki Perjalanan pulang dari negara yang bersakutan ...... lanjar
Dan sesudah turun dari pesawat .... mulai babak selajut nya penuh tekatan penipuan pemaksaan/ pemmerasan lebih eronis nya semua terjadi di negara nya sendiri
I N D O N E S I A
..............................
Ada seorang Tkw sampai Berteriaaaaaaaaaaaaakkkkkkkk
sudah sudahhhh sudah pak kami sudah cukup menderita
jangan diambil uang saya....
ini salah satu contoh pemadangan sehari hari di terminal tiga......yang katanya aman dan aman bagi petugas nya
karna diarea terminal tiga sterillll
bagi umum .... biar petugas kalau berbuat apa saja gak ada
yang melihaaatttt..... aman pak... coba bapak2 ingat semua itu di copy oleh TUHAN Bpk 2 Yang Mulia.....


Jumat, 09 September 2011

Indonesia Protes Keras atas Eksekusi Ruyati

Presiden Republik Indonesia - Dr. HKamis, 23 Juni 2011, 10:35:50 WIB
SBY Surati Raja Arab Saudi

Indonesia Protes Keras atas Eksekusi Ruyati

Presiden SBY mengecam keras eksekusi mati terhadap Ruyati yang tanpa pemberitahuan, dalam keterangan pers di Kantor Presiden, Kamis (23/6) pagi. (foto: cahyo/presidensby.info)
Presiden SBY mengecam keras eksekusi mati terhadap Ruyati yang tanpa pemberitahuan, dalam keterangan pers di Kantor Presiden, Kamis (23/6) pagi. (foto: cahyo/presidensby.info)
Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menyiapkan surat kepada Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdul-Aziz Al Saud. Surat berisi, antara lain, protes keras atas eksekusi hukuman mati terhadap Ruyati (54 tahun), TKI asal Bekasi, Jawa Barat, tanpa pemberitahuan kepada pemerintah Indonesia.

"Protes keras saya kepada pemerintah Arab Saudi atas eksekusi yang dilakukan kepada saudari Ruyati yang melanggar kelaziman tata karma internasional, tanpa pemberitahuan kepada pemerintah Indonesia," Presiden SBY menegaskan hal ini dalam bagian lain keterangan persnya di Kantor Presiden, Kamis (23/6) pagi.

Di dalam surat tersebut, SBY selaku kepala negara Indonesia, juga menyatakan bahwa hubungan bilateral antara Indonesia dan Arab Saudi selama ini sudah berlangsung baik, tapi minus kasus-kasus TKI yang beberapa tahun ini terjadi.

Presiden SBY juga mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Arab Saudi yang telah membebaskan tanpa syarat ratusan TKI. "Secara moral, saya wajib mengucapkan terima kasih," ujar SBY.

Pada kesempatan ini, Presiden juga menginstruksikan untuk membentuk satuan tugas khusus untuk menangani kasus TKI dan melakukan pembelaan kepada mereka yang terancam hukuman mati. "Saya pandang perlu untuk dibentuk satuan tugas khusus supaya lebih fokus menangani masalah itu," kata SBY.

Pemerintah juga segera membentuk Atase Hukum dan HAM di setiap Kedutaan Besar RI dengan jumlah TKI yang cukup banyak. Presiden juga menjelaskan, kebijakan nasional lebih lanjut terkait ketenagakerjaan Indonesia, terutama TKI di luar negeri akan ditentukan dan dirumuskan setalah tim terpadu selesai melaksakan tugasnya.

Kepada semua WNI ataupun TKI yang ada di luar negeri, Presiden meminta mereka memahami sistem dan pranata hukum, termasuk adat istiadat serta budaya yang berlaku di negara tersebut. "Sebagaimana saya minta warga negara lain di Indonesia untuk wajib pula memahami dan mematuhi tata praktik sistem hukum di negara kita," SBY menambahkan.

SBY juga menegaskan bahwa selaku Presiden sering menerima permohonan langsung atau tidak langsung, tertulis ataupun tidak tertulis, pengampunan terhadap warga negara lain yang tersangkut kasus hukum di Indonesia. Presiden dengan tegas menolaknya.

"Jawaban saya, supremasi hukum di atas segalanya. Hampir semua permintaan pengampunan hukuman mati itu saya tolak," tegas SBY. "Ini demi keadilan. Kalau ada kejahatan sangat berat saudara kita diberi hukuman mati, mengapa warga negara lain lantas diberikan pengampunan? Ini berlaku di semua negara," tambahnya.

Sementara itu, Menhuk dan HAM Patrialis Akbar menjelaskan, sejak menerima kabar ada 23 orang TKI di Arab Saudi, termasuk Ruyati, terancam hukuman mati, Presiden telah menginstruksikan untuk memberikan perlindungan. Pada Juli 2010 juga telah dilakukan koordinasi dengan pemerintah Arab Saudi. Kemudian pada 13 April 2011 melakukan pertemuan dengan sejumlah pejabat berwenang Arab Saudi.

Dari pertemuan tersebut, dicapai kesepakatan bahwa pemerintah Arab Saudi akan membebaskan tanpa syarat 316 orang WNI yang ditahan dan seluruh biaya pemulangan akan ditanggung oleh pemerintah Arab Saudi. “Dari 360 orang tersebut, 190 orang sudah kembali dan selebihnya masih dalam proses,” kata Patrialis.

Dalam pertemuan tersebut juga dijelaskan mengenai hukum Qisash yang berlaku di Arab Saudi. Dalam hukum Qisash dinyatakan bahwa bagi yang tidak mendapatkan status takzir atau pengampunan dari pihak keluarga korban, terdakwa tidak dapat dibebaskan. Namun demikian, akan tetap diusahakan untuk mendapatkan maaf dari pihak keluarga. (yun)

Link Terkait:


1 komentar: